Agensia Hayati Coryne Bacterium dan Perbanyakannya

283

AGENSIA HAYATI CORYNE BACTERIUM & PERBANYAKANNYA

Kondisi pertanian dewasa ini semakin memprihatinkan. Tanah semakin rusak akibat pemupukan kimiawi/sintetis yang tak berimbang, penggunaan pestisida sintetis yang berlebihan menyebabkan kerusakan ekosistem. Tentu dibalik kondisi ini masih ada semangat untuk kembali kepada pertanian yang sehat dan alami. Salah satunya adalah dengan cara penggunaan pestisida nabati dan agen hayati dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman. Pengendalian penyakit tanaman dengan menggunakan agens pengendali hayati muncul karena kekhawatiran masyarakat dunia akibat penggunaan pestisida kimia sintetis. Adanya kekhawatiran tersebut membuat pengendalian hayati menjadi salah satu pilihan cara mengendalikan patogen tanaman yang harus dipertimbangkan (Soesanto, 2008).
Pengertian agens hayati menurut FAO (1988) adalah mikroorganisme, baik yang terjadi secara alami seperti bakteri, cendawan, virus dan protozoa, maupun hasil rekayasa genetik (genetically modified microorganisms) yang digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Pengertian ini kemudian dilengkapi dengan definisi menurut FAO (1997), yaitu organisme yang dapat berkembang biak sendiri seperti parasitoid, predator, parasit, artropoda pemakan tumbuhan, dan patogen.
Mengingat pentingnya pengembangan agen hayati dalam pertanian, Indonesia pun mengeluarkan definisi melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 411 tahun 1995, yaitu setiap organisme yang meliputi spesies, subspesies, varietas, semua jenis serangga, nematoda, protozoa, cendawan (fungi), bakteri, virus, mikoplasma, serta organisme lainnya dalam semua tahap perkembangannya yang dapat dipergunakan untuk keperluan pengendalian hama dan penyakit atau organisme pengganggu, proses produksi, pengolahan hasil pertanian, dan berbagai keperluan lainnya.
Coryne bacterium sp. yang merupakan salah satu agens hayati bersifat antagonis dapat mengendalikan beberapa jenis penyakit tanaman. Yang paling utama Coryne bacterium sp. dapat mengendalikan penyakit kresek pada tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae.

Coryne bacterium dapat digunakan untuk mengendalikan beberapa jenis penyakit, baik pada tanaman pangan maupun hortikultura,saat ini cukup berkembang.
• Tanaman Pangan antara lain adalah:
Penyakit HDB/ kresek, BRS, Blas dan Cercospora.
• Tanaman Hortikultura :
1. Penyakit layu pada sayuran (tomat, cabai).
2. Penyakit akar gada pada kubis
3. Penyakit layu pada pisang.
Serangan penyakit kresek, hawar daun bakteri (BLB) pada tanaman padi telah meresahkan para petani. Sepertinya sekarang ini kresek telah menjadi penyakit utama pada tanaman padi. Kerugian yang ditimbulkan oleh serangan kresek tidak main-main, bisa mencapai 75 %. Belum pahamnya petani tentang penyakit kresek ini menjadi kendala untuk mengendalikannya. Berbagai cara pengendalian secara kimia dilakukan petani namun banyak yang belum mendapatkan hasil yang maksimal. Padahal ada cara organik yang sangat efektif untuk mengendalikan penyakit kresek ini. Kemampuan coryne bakterium ini dalam menekan penyakit Kresek (BLB) mencapai 80 persen. Selain harganya sangat murah Coryne bacterium sp juga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Untuk memproduksi bakteri Corine, kita harus punya Isolat bakteri Corine dan peralatan produksinya. Isolat Bakteri Corine, biasanya tersedia dalam bentuk biakan murni dalam media PDA (Potatoes Dextrose Agar). Wadah yang paling umum digunakan adalah tabung reaksi. Tiap tabung reaksi dapat digunakan untuk membuat larutan bakteri Corine sebanyak 5 liter.
instalasi produksi untuk memperbanyak bakteri Corine sp antara lain berupa:
1. Aerator dan slang-nya, sebagai sumber udara sekaligus pengaduk.
2. Fermentor, yaitu botol yang berisi larutan PK (KMnO4) atau Methylene Blue untuk membunuh bakteri dan jamur yang terbawa oleh udara dari aerator.
3. Filter, yaitu botol yang berisi glass wool/busa penyaring untuk membersihkan udara dari fermentor
4. Jerigen kapasitas 5, 10, atau 20 liter untuk memproduksi bakteri Corine dalam media larutan EKG (Ekstrak Kentang Gula).
5. Botol atau gelas untuk mengamankan lubang pembuangan udara dari jerigen, sekaligus sebagai indikator bahwa udara lancar tertiup ke dalam jerigen.
Perbanyakan
Langkah –langkah sebagai Cara Memproduksi / Memperbanyak Bakteri Corine, sp yaitu:
1. Kentang dipotong dan dicuci
2. Kentang direbus setelah air mendidih
3. Setelah mateng air dan kentangnya dipisahkan.
4. Air kentang ditambah gula kemudian rebus kembali sampai larut
5. Air kentang yang sudah ditambah gula putih di dinginkan
6. Kemudian masukan dalam jarigen, bila airnya kurang bisa ditambah dengan air mineral
7. Masukkan Isolat Bakteri Corine pada air kentang yang ada di jirigen
8. Setelah Isolat Bakteri Corine dan air kentang menyatu kemudian inkubasi selama 2-3 minggu dengan diberi aerasi dari aerator
9. Coryne bacterium siap diaplikasikan dilahan

Sumber: Penyuluh Pertanian BPP kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul